Mysterious Thing • Conspiracy • Controversy • UFO & Alien • Archeology • Science • Universe • • • • • • • • • • • •

Studi Baru: Vitamin D Mengobati TBC dan HIV

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dosis tinggi vitamin D membantu pengobatan tuberkulosis dan mengurangi risiko kematian karena HIV/AIDS.

Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa dosis tinggi vitamin D, disebut juga “vitamin sinar matahari,” mungkin dapat melawan tuberkulosis (TB) dan mengurangi risiko kematian dari HIV, virus yang menyebabkan AIDS.

Diperkirakan 1,5 juta orang meninggal setiap tahun karena tuberkulosis dan ada kekhawatiran bahwa penyakit tersebut semakin resisten terhadap obat.

Studi terbaru dari Queen Mary University di London menunjukkan bahwa perawatan TB dapat diperbaiki secara signifikan dengan penambahan vitamin D.

Para peneliti di universitas tersebut meneliti 95 pasien tuberkulosis.

Semuanya menerima pengobatan antibiotik standar, namun beberapa diberi suplemen dosis vitamin D sangat tinggi, sekitar 10 kali dosis rata-rata.

Para ilmuwan yang dipimpin oleh Adrian Martineau menemukan bahwa bakteri TB hilang dari kelompok yang mendapatkan vitamin D dalam periode rata-rata 23 hari, kurang lebih dua minggu lebih cepat…

Lihat pos aslinya 436 kata lagi

Iklan

Prototype Mental Umat islam Dalam Berdagang

Menurut kisah sejarah Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang ulung, dengan kejujurannya Ia tetap bisa melakukan kegiatan perdagangan dan meraup keuntungan…..bahkan mungkin mustahil kita praktekkan zaman sekarang.

Bertolak belakang dengan zaman sekarang dimana perdagangan identik dengan meraih untung sebanyak-banyaknya dengan modal seminimal mungkin (dengan menghalalkan segala cara). Istilah saling sikut, saling jegal, saling tipu seolah menjadi roh mental dagang umat manusia, dengan torehan berbagai aliran mulai dari kapitalisme, sosialisme, humanis, gotong royong….istilah2 tersebut tidak mampu menutupi stigma perdagangan yang cenderung kurang pas di telinga sebagian umat beriman.

Bagaimanakah penyikapan umat Islam sekarang mengenai perdagangan dengan kaidah Al Qur’an ???

Menurut kaidah marketing yang sangat sederhana tidak mungkin kita bisa bersaing sebelum memiliki daya saing di 4 P: Products, Price, Promotion, dan Placement atau delivery. Hanya dengan produk yang inovatif dan kualitas yang memadai kita bisa merebut pasar. Produk yang inovatif baru akan laku bila dijual dengan harga (price) yang bersaing dan promosi yang efektif. Demikian juga nasabah baru akan setia dan terpuaskan bila kita menyerahkannya (placement) sesuai jadwal dan after sales service (layanan purna jual) yang prima.

Pengungkapan perdagangan dalam Al-quran ditemui dalam tiga bentuk, yaitu tijarah (perdagangan), bay’ (menjual) dan Syira’ (membeli). Jika menilik kisah perdagangan nabi dan pengikutnya, Islam menambahkan dan melengkapi kaidah marketing dengan trust, kepercayaan konsumen dan kejujuran penjual dalam prinsip/kaidah 4P marketing. Selain itu kegigihan dalam mengais rezeki dibuktikan dengan kemampuan pedagang timur tengah waktu itu dalam melakukan perjalanan lintas gurun.

Dalam Surat al-Quraish Allah melukiskan satu contoh dari kaum Quraish (leluhur Rasulullah dan petinggi bangsa Arab) yang telah mampu menjadi pemain global dengan segala keterbatasan sumberdaya alam di negeri mereka. Allah berfirman, “Karena kebiasaan orang-orang Quraish. (Yaitu) kebiasaan melakukan perjalan dagang pada musim dingin dan musim panas.”Para ahli tafsir baik klasik, seperti al-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari, maupun kontemporer seperti, al-Maraghi, az-Zuhaily, dan Sayyid Qutb, sepakat bahwa perjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara seperti Syria, Turki, Bulgaria, Yunani, dan sebagian Eropa Timur, sementara perjalanan musim panas dilakukan ke selatan seputar Yaman, Oman, atau bekerja sama dengan para pedagang Cina dan India yang singgah di pelabuhan internasional Aden. Perintah Al-quran untuk melakukan perdagangan dengan go internasional ke manca negara telah dibuktikan oleh generasi Islam di masa kejayaan Islam.

Saat ini contoh yang paling dekat dengan kemampuan dagang yang dilukiskan Alquran mungkin Singapura atau Hong Kong, negeri yang miskin sumberdaya alam tetapi mampu menggerakkan dan mengontrol alur ekspor di regional Asia Tenggara dan Pasifik. Sementara Indonesia, yang luas salah satu provinsinya (Riau) 50 kali Singapura, dengan potensi ekspor dan sumberdaya alam yang ribuan kali lipat, ternyata jauh tertinggal. Mungkin kita harus bercermin pada Alquran dan hadits yang selama ini kita tinggalkan untuk urusan bisnis dan ekonomi.

Cerminan tadi hendaknya dijadikan contoh bagi generasi muda Indonesia, dengan wadah apapun atau keberanian individu untuk terus bergerak kedalam lingkaranm niaga yang memang dihalalkan oleh Islam, bahkan dalam hadis diterangkan rezeki manusia 70% dari sektor perdagangan, sisanya 30% dari sektor lainnya…

Bagaimana dengan Anda ????

….renungan….

Ada empat jenis manusia.

Yang pertama, tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah

Yang kedua, berlidah tapi tak berhati. Mereka berbicara bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah, tapi mereka sendiri jauh dari-Nya

Yang ketiga, berhati tapi tak berlidah, dan beriman. Allah telah memberinya dari makhluk-Nya, menganugerahinya pengetahuan tentang noda-noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sedar akan mudharatnya berbaur dengan manusia, akan kekejian berbicara dan yang telah yakin bahawa keselamatan ada dalam ke-diam-an serta keberadaan dalam sebuah sudut, sebagaimana sabda Nabi saw.: “Barangsiapa senantiasa diam, maka ia memperolehi keselamatan.” “Sesungguhnya pengabdian kepada Allah terdiri atas sepuluh bahagian, yang sembilan bahagian ialah ke-diam-an.” Maka, orang ini adalah wali Allah dalam hal rahsia-Nya, terlindungi, memiliki keselamatan dan banyak pengetahuan, terahmati dan segala yang baik ada padanya

Yang keempat ialah manusia yang diundang ke dunia ghaib, yang dipakaikan kemuliaan.

“Barangsiapa mengetahui dan bertindak berdasarkan pengetahuannya dan memberikannya kepada orang lain, maka ia diundang ke dunia ghaib dan menjadi mulia.”

Orang semacam itu memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yang langka tentang-Nya, dan Ia menganugerahkan kepadanya rahsia-rahsia yang disembunyikan-Nya dari yang lain. Ia memilihnya, mendekatkannya kepada-Nya Sendiri, membimbingnya, memperluas hatinya agar bisa menerima rahsia-rahsia dan pengetahuan-pengetahuan ini, dan menjadikannya seorang pekerja dijalan-Nya, penyeru hamba-hamba-Nya kepada jalan kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan-perbuatan keji, dan hujjatullah di tengah-tengah mereka, pemandu dan yang terbimbing, perantara, dan yang perantaraannya diterima, seorang shiddiq dan saksi kebenaran, wakil para nabi dan utusan Allah, yang bagi mereka limpahan rahmat Allah.

……mimpi…cita-cita, sebuah ikhtisar ….

Saat kecil saya masih ingat betul mimpi dan cita-cita saya ingin jadi Kyai, Ulama dan sebangsanya dengan tujuan biar tidak masuk neraka (waktu itu kisah surga dan neraka sangat mengental karena setiap saat didoktrin orang tua)….. pengen punya rumah dengan halaman yang ada atapnnya dengan alasan biar bisa melihat hujan di halaman tanpa harus basah kuyup……

Mimpi anak kecil kalau dipikir2 lebih indah karena tidak ada yang mengaitkan dengan bisnis, materi dan Ego masyarakat. Coba sekarang kita tanya anak SMA mungkin aneh kalau ada yang menjawab pengen jadi sopir angkot. Benak mereka sudah dijejali  sebuah profesi idaman yang bermartabat, lumbung harta, dan membuat mereka menjadi terkenal….bukan dari keinginan murni, tetapi sudah dikontaminasi dengan media, iklan, keinginan orang tua, lingkungan dan keluar.

Entah disadari atau tidak mimpi, cita-cita, keinginan hanyalah indikator yang berada dari dalam/internal kita untruk menakar seberapa jauh kita bisa melangkah. Dasar dari mimpi/cita-cita adalah kepuasan pribadi, bakat/keahlian, dan keinginan individu, sesuatu yang sangat privacy, asasi dan pribadi. Bukan sesuatu yang diarahkan dari kecil sebagai pelampiasan keinginan yang tak tercapai dari orang tua, atau karena orang tua menginginkan anaknya jadi A.. atau B… 

 

So, sejauh apakah kita berperan dalam mimpi keturunan kita, anak-anak yang masih murni, penuh dengan pure imagine akan kita jerumuskan ke dalam dunia kita yang pureness……

 

jAnGan Ngarep…

Dalam suatu kesempatan saya tergabung dengan teman yang lain untuk melakukan proses seleksi/penyaringan suatu pekerjaan. Sebelumnya ada sesi menarik yang dibimbing seorang ahli psikolog (katanya) dengan tema Target Hidup. Setiap peserta diminta mengisi kolom yang terdiri dari beberapa pertanyaan :

– Mobil yang paling diinginkan

– Type Rumah yang diidam2kan 

– Negara yang ingin dikunjungi dsb

Intinya kita semua diarahkan ke semua yang kita inginkan, kita impikan dan kita idam2kan sejak lama. Semua peserta antusias mengisi, ada yang ingin mobol Porsche, BMW, berlibur ke disneyland, Las Vegas, punya rumah mewah di area strategis…….dan lain- lain (yang semuanya muluk2 dan membuat orang yang membacanya bilang WOWWWW).

Ketika selesai semua menghitung perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk mencapai keinginan tersebut, rata2 membutuhkan biaya yang tdk sedikit, milyaran malahan….dengan rataan biaya perbulan mencapai puluhan hingga ratusan juta.

Dengan tersenyum simpul pembimbing sesi tersebut hanya bertanya lirih, bisa ngga Anda mencapainya, pekerjaan apa yang sekiranya menghasilkan > 50 juta per bulan untuk mewujudkan keinginan Anda….

Peserta hanya terdiam, (termasuk saya) seolah2 disadarkan dari mimpi mipi yang sangat indah………..

Jangankan pendapatan jutaan, lha wong sekarang saja masih mencari kerja…….

Hingga detik ini masih ada sisa pertanyaan yang terngiang…”Sampai kapan kita bisa memenuhi keinginan kita…..” …………. (Renungan kecil tapi efeknya bisa jadi GambarLuar Biasa :p)

berkata tidak pada si kecil (sebuah renungan media..)

“Anak-anak membutuhkan Anda untuk berkata ‘tidak’,” kata Lori Freson, MA, terapis pernikahan dan keluarga yang berlisensi. “Anak-anak secara emosional belum siap untuk membuat keputusan besar atau aturan untuk dirinya. Itu pekerjaan Anda dan jika Anda tidak melakukannya, anak Anda akan merasakan kebingungan yang bisa berwujud diri dalam sakit perut, sakit kepala, tantrum, dan bahkan bisul.”

Cara mengatakan tidak pada anak bukan hal mudah. Nah, berikut saran ahli cara mengatakan tidak pada anak.

1. Berikan alternatif

Saran Brandi Davis, seorang pelatih anak dan keluarga daripada mengatakan tidak berikan anak alternatif lain. Misal, seorang anak yang ingin meniup gelembung di dalam rumah dapat diarahkan dengan “Kita bisa meniup gelembung di halaman atau di garasi,” Seorang anak yang ingin kue dapat diarahkan dengan “Kamu mau sepotong keju atau apel.”

2. Bertingkah konyol
Mengatakan “tidak” adalah bagian yang mudah. Bagian tersulitnya, anak mau terima atau tidak.Jen Hancock, penulis buku The Vaksin Bully mengaku, “Ketika anak saya masih kecil saat saya ingin mengatakan tidak, saya akan menyanyikan sebuah lagu yang menyempilkan kata tidak dalam setiap baitnya. Cara ini cukup mengalihkan perhatiannya sekaligus menghiburnya.”

3. Ajukan pertanyaan
“Ketika anak-anak saya mendekati saya untuk sesuatu, saya bertanya kepada mereka mengapa mereka menginginkannya,” kata Mary O’Donohue, penulis buku When You Say ‘Thank You,’ Mean It. “Jika alasannya bisa diterima maka saya akan mengatakan iya. Kalau pun saya mengatakan tidak, mereka tahu keinginannya sudah didengarkan.”

4. Perhalus bahasa
Sarah Lendt, MSEd., NCC, seorang Parent Educator menyarankan kata-kata alternatif seperti “Tidak hari ini”, “Mungkin lain kali” atau “Mari kita memilih yang lain.”

5. Berikan alasan singkat
 
Psikoterapis Barbara Neitlich merekomendasikan untuk menggunakan penjelasan singkat seperti “Tidak baik merebut mainan teman,” Lalu  pindahkan anak untuk menemukan mainan atau kegiatan lain. “Orang tua cenderung merasa bahwa mereka harus menjelaskan dan kembali menjelaskan kepada anak mengapa mereka mengatakan ‘tidak’,” Menurutnya, “Anda tidak harus melakukan ini, lebih pendek sebenarnya lebih baik karena anak kecil tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mengikuti alasan Anda. Penjelasan panjang sering membuat mereka merasa lebih bingung dan frustrasi.”

6. Atur Anggaran 
Setelah anak memasuki masa praremaja atau remaja, Siapkan anggaran untuk belanja pakaian. Beritahu jumlah yang bisa mereka habiskan buat sebuah pakaian atau sepasang sepatu. Maka mereka tahu kapan dan barang apa yang bisa mereka dapatkan. Hal ini juga menghindari mereka meminta pakaian yang harganya selangit, Begitu saran Sarah Clachar, pendiri Fit Family Together.

….preambule…

Pola berpikir seseorang biasanya mengikuti cara pola berpikir kebanyakan orang yaitu pola pikir mengejar perhargaan/ membela diri/ membuat alasan2/ mengucilkan diri, dll.

Kita dapat memiliki pola pikir yang optimistis. Kita percaya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Semua dapat dilakukan secara bertahap, biar lambat asal selamat maka kita akan berhasil melakukan sesuatu yang teramat sulit

Kita juga dapat memilih pola pikir seorang yang realistis. Dapat mengalahkan rasa takut dan hal-hal negatif dan melihat sesuatu tanpa menggunakan emosi lalu membuat rencana secara bertahap dengan penuh rasa percaya diri

Kita juga dapat mempunyai pola pikir Taoisme. Bahwasanya hitam tidak selalu jelek dan putih tidak selalu baik. Sesuatu yang jelek dapat sangat bermanfaat jika ada pada situasi yang tepat. Bahwa sesuatu yang kelihatan-nya baik mungkin dapat mencelakakan kita. Selalu berada dijalur tengah, berjalan dengan sendirinya tanpa diatur, tanpa emosi, menerima apa adanya tanpa penyesalan Ini merupakan cara terbaik untuk meraih kebahagiaan. Yang perlu kita pikirkan atau kuatirkan adalah saat sekarang ini, menit ini, detik ini, bukan kemarin ataupun esok hari. Semua langkah kita dapat dilakukan dengan benar jika kita tidak merasa putus asa dan tidak terlalu memikirkan hal-hal menakutkan yang belum terjadi atau memikirkan bahwa kita akan gagal. Jika kita dapat memfokuskan diri kita pada saat sekarang maka kita akan dapat jauh lebih sukses.

Setiap saat kita dapat menentukan pilihan untuk merubah pola pikir apakah kita akan tetap dengan pola pikir yang positif atau pola pikir yang negatif