Prototype Mental Umat islam Dalam Berdagang

Menurut kisah sejarah Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang ulung, dengan kejujurannya Ia tetap bisa melakukan kegiatan perdagangan dan meraup keuntungan…..bahkan mungkin mustahil kita praktekkan zaman sekarang.

Bertolak belakang dengan zaman sekarang dimana perdagangan identik dengan meraih untung sebanyak-banyaknya dengan modal seminimal mungkin (dengan menghalalkan segala cara). Istilah saling sikut, saling jegal, saling tipu seolah menjadi roh mental dagang umat manusia, dengan torehan berbagai aliran mulai dari kapitalisme, sosialisme, humanis, gotong royong….istilah2 tersebut tidak mampu menutupi stigma perdagangan yang cenderung kurang pas di telinga sebagian umat beriman.

Bagaimanakah penyikapan umat Islam sekarang mengenai perdagangan dengan kaidah Al Qur’an ???

Menurut kaidah marketing yang sangat sederhana tidak mungkin kita bisa bersaing sebelum memiliki daya saing di 4 P: Products, Price, Promotion, dan Placement atau delivery. Hanya dengan produk yang inovatif dan kualitas yang memadai kita bisa merebut pasar. Produk yang inovatif baru akan laku bila dijual dengan harga (price) yang bersaing dan promosi yang efektif. Demikian juga nasabah baru akan setia dan terpuaskan bila kita menyerahkannya (placement) sesuai jadwal dan after sales service (layanan purna jual) yang prima.

Pengungkapan perdagangan dalam Al-quran ditemui dalam tiga bentuk, yaitu tijarah (perdagangan), bay’ (menjual) dan Syira’ (membeli). Jika menilik kisah perdagangan nabi dan pengikutnya, Islam menambahkan dan melengkapi kaidah marketing dengan trust, kepercayaan konsumen dan kejujuran penjual dalam prinsip/kaidah 4P marketing. Selain itu kegigihan dalam mengais rezeki dibuktikan dengan kemampuan pedagang timur tengah waktu itu dalam melakukan perjalanan lintas gurun.

Dalam Surat al-Quraish Allah melukiskan satu contoh dari kaum Quraish (leluhur Rasulullah dan petinggi bangsa Arab) yang telah mampu menjadi pemain global dengan segala keterbatasan sumberdaya alam di negeri mereka. Allah berfirman, “Karena kebiasaan orang-orang Quraish. (Yaitu) kebiasaan melakukan perjalan dagang pada musim dingin dan musim panas.”Para ahli tafsir baik klasik, seperti al-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari, maupun kontemporer seperti, al-Maraghi, az-Zuhaily, dan Sayyid Qutb, sepakat bahwa perjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara seperti Syria, Turki, Bulgaria, Yunani, dan sebagian Eropa Timur, sementara perjalanan musim panas dilakukan ke selatan seputar Yaman, Oman, atau bekerja sama dengan para pedagang Cina dan India yang singgah di pelabuhan internasional Aden. Perintah Al-quran untuk melakukan perdagangan dengan go internasional ke manca negara telah dibuktikan oleh generasi Islam di masa kejayaan Islam.

Saat ini contoh yang paling dekat dengan kemampuan dagang yang dilukiskan Alquran mungkin Singapura atau Hong Kong, negeri yang miskin sumberdaya alam tetapi mampu menggerakkan dan mengontrol alur ekspor di regional Asia Tenggara dan Pasifik. Sementara Indonesia, yang luas salah satu provinsinya (Riau) 50 kali Singapura, dengan potensi ekspor dan sumberdaya alam yang ribuan kali lipat, ternyata jauh tertinggal. Mungkin kita harus bercermin pada Alquran dan hadits yang selama ini kita tinggalkan untuk urusan bisnis dan ekonomi.

Cerminan tadi hendaknya dijadikan contoh bagi generasi muda Indonesia, dengan wadah apapun atau keberanian individu untuk terus bergerak kedalam lingkaranm niaga yang memang dihalalkan oleh Islam, bahkan dalam hadis diterangkan rezeki manusia 70% dari sektor perdagangan, sisanya 30% dari sektor lainnya…

Bagaimana dengan Anda ????

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s